Welcome to "Belajar Asyik" Blog Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dua nikmat, yang manusia banyak tertipu dengannya : nikmat sehat dan waktu luang" (hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya)

Selasa, 14 Agustus 2012

Lama waktu Khotbah Sholat Jum'at

Mayoritas ulama sepakat bahwa khotbah Jumat merupakan syarat sahnya salat Jumat. Hal ini merujuk pada firman Allah, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk salat Jumat, maka segeralah untuk mengingat Allah.“ (Al-Jumu’ah 62:9). Yang dimaksud  “mengingat Allah” adalah khotbah Jumat (Al-Mughni II/74),  dikuatkan pula dengan contoh Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan khotbah Jumat saat melaksanakan salat Jumat.  Rasulullah SAW apabila sedang khotbah Jumat tidak pernah panjang lebar atau bertele-tele. Khotbahnya singkat, padat, fokus namun mampu menggetarkan jiwa (Lihat hadits riwayat Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad dalam Bab Khotbah Jumat). Bahkan khotbah Jumat Nabi Muhammad lebih singkat dibandingkan bacaan shalatnya.

Ammar bin Yasir R.A. berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya khotbah Jumat yang pendek menunjukkan kecerdasan dan kearifan khatib (orang yang khotbah). Maka perpanjanglah bacaan shalat dan pendekkanlah khutbahnya. Yang penting penjelasan dalam khotbah itu memberikan pengaruh pada jiwa.'” (HR. Muslim, Ahmad dan Ad-Daarimi)

Keterangan ini menunjukkan bahwa khatib Jumat yang bijak tidak akan bertele-tele dalam khotbahnya, apalagi di kota-kota besar yang mayoritas jamaahnya karyawan yang mempunyai waktu yang terbatas.  Khotbah Jumat  itu cukup 15 menit, tetapi materinya fokus, singkat, padat, mampu menyentuh kesadaran beragama sehingga iman dan amal mengalami progresivitas.

Khotbah Jumat yang disampaikan secara singkat, sistematis dan fokus diharapkan akan memberikan dampak positif pada jamaah. Betapa banyak jamaah salat Jumat yang tertidur karena khatibnya bertele-tele dan membahas sesuatu yang tidak urgent.

Khatib harus mampu mengangkat tema yang dibutuhkan jamaah. Isi khotbahnya harus memberikan solusi bukan menimbulkan keresahan, harus melahirkan pencerahan bukan menimbulkan kejumudan, harus menumbuhkan persaudaraan dan kebersamaan bukan menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Karena itu Allah mengingatkan agar kita bisa mengajak manusia ke jalan Allah dengan penuh hikmah dan kearifan dengan menggunakan bahasa yang santun dan menyentuh (An-Nahl 6:125)


sumber : Yahoo Indonesia

Rabu, 01 Agustus 2012

William Henry Quilliam & Perjalanan Islam di Inggris




Perjalanan masuk Agama Islam di Inggris sejak beberapa abad silam dan kisah William Henry Quilliam sebagai orang Inggris pertama yang menjadi muslim, ditayangkan stasiun televisi BBC London.

Tayangan selama dua jam dalam dua seri yang berjudul "Great British Islam" itu, menyambut bulan suci Ramadan 1433 Hijriah tahun 2012 oleh umat Islam di Inggris, mulai dilaksanakan Jumat, di musim panas dimulai pukul 2.30 pagi hingga saat Magrib sekitar pukul 09.05 waktu setempat.

Pengamat masalah sosial dan kandidat Phd dari Essex University, Hakimul Ikhwan, kepada ANTARA London, Sabtu, mengatakan tayangan Great British Islam di stasiun BBC London mulai Rabu malam itu, bukan hanya menambah pengetahuan mengenai sejarah masuk Islam di Inggris.

Tayangan itu juga menggugah perasaan sebagai muslim untuk mensyukuri dan respek terhadap komitmen Inggris pada prinsip demokrasi, terutama dalam pengertian menjamin kebebasan berekspresi dan berkeyakinan, ujar Hakimul, dosen Sosiologi Fisipol UGM Yogyakarta.

Sebelum sampai ke Inggris, tidak pernah terbayangkan pada diri suami Lia Yuliawati bahwa tayangan seperti itu bisa ada di TV Inggris sekelas BBC.

Dalam hal ini, mungkin Inggris memang terdepan dibanding negara-negara Eropa lainnya, seperti Jerman dan Prancis, ujar ayah satu putri itu pula.

Menurut dia, tayangan "Great British Islam" sangat menginspirasi, dan banyak hal yang menarik untuk dikomentari.

Dia menilai, ketangguhan prinsip masyarakat Ingggris (British) terhadap prinsip penghargaan keberagaman/pluralitas.

Tidak hanya itu, mereka juga memfasilitasi dan menghadirkannya sebagai diskursus di ruang publik melalui media yang paling mudah diakses, yaitu televisi, ujar alumni Pondok Modern Gontor Angkatan 1997.

Ia mengatakan, perkembangan Islam di Inggris sejak abad 19 sekaligus membantah tesis atau pandangan para Orientalis bahwa Islam berkembang melalui pedang (peperangan).

Justru yang terjadi di Inggris, sebagaimana juga terjadi di Indonesia, Islam sukses berkembang melalui kemampuan "membumikan" nilai dan ajaran Islam sesuai dengan konteks dan kebutuhan masyarakat lokal, ujar peneli dengan topik "Islamism and Democracy" itu lagi.

Dalam "Great British Islam", berupa tayangan dokumenter ini, bercerita mengenai seorang tokoh kenamaan Inggris yang mencoba memahami Islam pada pertengahan abad ke-19.

Bertempat di sebuah bangunan yang kini sudah tampak kusam, William Henry Quilliam, menemukan kedamaian di dalamnya.

Bangunan bercat putih kusam dengan bagian pintu depan yang terlihat reyot dan pintu belakang penuh dengan coretan grafiti, serta sarang burung dara dan jamur yang melekat pada hampir seluruh permukaan dinding yang menyimpan cerita panjang mengenai Islam di Negeri Ratu Elizabeth II ini.

Bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah perkembangan Islam di Inggris pada abad ke-19 dan 20 Masehi ini, adalah milik William Henry Quilliam yang menjadi fokus menarik mengenai keberadaan Islam pertama kalinya di Inggris Raya.

Hakimul mengatakan, Islam dalam konstruksi masyarakat Inggris saat itu identik dengan kebodohan dan kepicikan ("narrow minded"), sehingga Quilliam mendakwahkan Islam melalui bahasa ilmu pengetahuan.

Merujuk sejarah tersebut, kesadaran yang perlu dibangun adalah kontekstualisasi Islam mengatasi berbagai persoalan kekinian, bukan justru menjadi bagian masalah kekinian, kata dia.

"Jika tidak, maka ancaman kebangkrutan niscaya terjadi, mengingat perkembangan Islam di Inggris tidak terjadi dalam relasi penaklukkan atau peperangan sehingga wajah Islam Inggris cenderung lebih lentur, fleksibel, dan egaliter," ujar dia lagi.

Menurut dia, sebagaimana terjadi di Indonesia, Islam berkembang di Inggris melalui proses kultural yang dibangun melalui jaringan sosial dalam komunitas di tingkat lokal.

Karenanya, Islam hadir dalam beragam wajah dan ekspresi di tengah keragaman sosial masyarakat Inggris Raya.

Gelombang besar migrasi ke penjuru wilayah Inggris Raya dalam beberapa dekade terakhir, terutama awal abad 21, sekaligus menambah besar keragaman wajah Islam di Inggris Raya, ujar Hakimul yang meraih gelar Master dari University of Nottingham itu pula.

Sang Penyair

William Henry Quilliam menurut laman Wikipedia adalah pria kelahiran Liverpool, 10 April 1856 yang berasal dari keluarga kaya raya.

Ayahnya, Robert Quilliam, adalah seorang pembuat jam. Sejak kecil William sudah mendapatkan pendidikan yang memadai, dan oleh kedua orang tuanya disekolahkan di Liverpool Institute dan King William’s College.

Pada kedua lembaga pendidikan ini, ia mempelajari bidang hukum, dan pada 1878, William memulai karier sebagai seorang pengacara.

William tumbuh dan dibesarkan sebagai seorang Kristen. Agama Islam baru dikenalnya ketika ia mengunjungi wilayah Prancis selatan pada 1882. Sejak saat itu, dia mulai banyak mempelajari mengenai Islam dan ajarannya. Ketertarikannya terhadap Islam semakin bertambah saat ia berkunjung ke Aljazair dan Tunisia.

Sekembalinya dari mengunjungi Maroko, William merealisasikan keinginannya untuk berpindah keyakinan ke agama Islam. Setelah masuk Islam, ia mengganti namanya menjadi Abdullah Quilliam. Usai menyandang nama baru ini, William gencar mempromosikan ajaran Islam kepada masyarakat Liverpool.

Untuk mendukung syiar Islam di kota tempat kelahiran The Beatles itu, William mendirikan lembaga bagi mereka yang ingin mengetahui dan belajar tentang Islam.

Pada 1889, ia pun mendirikan Liverpool Muslim Institute. Tak hanya sebatas menjadi pusat informasi Islam, Abdullah kemudian memfungsikan bangunan Liverpool Muslim Institute menjadi tempat beribadah bagi komunitas Muslim Liverpool. Bangunan itu mampu menampung sekitar seratus orang jemaah.

Pendirian masjid ini kemudian diikuti oleh pendirian sebuah perguruan tinggi Islam di Kota Liverpool, dan sebuah panti asuhan bernama Madina House.

Pimpinan perguruan tinggi Islam itu, Abdullah menunjuk Haschem Wilde dan Nasrullah Warren.

Sebagaimana pujangga Inggris William Shakespeare, William Henry Quilliam/Abdullah Quilliam ini dikenal aktif sebagai penulis sastra, dan berupaya menarik simpati masyarakat non-Muslim di Liverpool melalui karyanya.

Dalam rentang waktu sepuluh tahun, dia berhasil mengislamkan lebih dari 150 warga asli Inggris, baik dari kalangan ilmuwan, intelektual, maupun para pemuka masyarakat termasuk ibunya yang semula seorang aktivis Kristen.

Berbagai tulisannya mengenai Islam diterbitkan melalui media The Islamic Review dan The Crescent yang terbit dari 1893 hingga 1908 dan beredar luas secara internasional.

Harian The Independent menulis bahwa William memanfaatkan ruang bawah tanah masjid sebagai tempat untuk mencetak karya-karya tulisnya.

William menerbitkan tiga edisi buku dengan judul The Faith of Islam pada 1899. Bukunya ini sudah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa dunia.

Ratu Victoria dan penguasa Mesir termasuk di antara tokoh dunia yang pernah membaca bukunya.

Berkat The Faith of Islam, dalam waktu singkat nama Abdullah Quilliam dikenal luas di seluruh negeri-negeri Muslim. Dia juga menjalin hubungan dengan komunitas Muslim di Afrika Barat, dan mendapatkan penghargaan dari pemimpin dunia Islam.

Bahkan, ia mendapat gelar Syekh al-Islam dari Sultan Ottoman (Turki Usmani), Abdul Hamid II, pada 1894, dan diangkat sebagai Atase Khusus Negeri Persia untuk Liverpool.

sumber : kompas.kom