Welcome to "Belajar Asyik" Blog Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dua nikmat, yang manusia banyak tertipu dengannya : nikmat sehat dan waktu luang" (hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya)

Jumat, 14 Oktober 2016

LAPORAN KIMIA DASAR - GOLONGAN DAN IDENTIFIKASI UNSUR


PERCOBAAN II
I.                  JUDUL PRAKTIKUM
GOLONGAN DAN IDENTIFIKASI UNSUR
II.               HARI, TANGGAL
SENIN, 4 NOVEMBER 2013
III.           TUJUAN PERCOBAAN
1.      Mengkaji kesamaan sifat unsur-unsur dalam tabel berkala
2.      Mengamati uji nyala dan dan reaksi beberapa unsur alkali dan alkali tanah
3.      Mengenali reaksi air klorin dan halida
4.      Menganalisis larutan anu yang mengandung unsur alkali atau alkali tanah dan halida
IV.           PERTANYAAN PRA PRAKTEK
1.      Tuliskan unsur-unsur yang termasuk golongan IA (Alkali) dan golongan IIA (Alkali Tanah)
Jawab :


a.       Golongan IA
-          Hidrogen (H)
-          Litium (Li)
-          Natrium (Na)
-          Kalium (K)
-          Rubidium (Rb)
-          Sesium (Cs)
-          Fransium (Fr)
b.      Golongan IIA
-          Berilium (Be)
-          Magnesium (Mg)
-          Kalsium (Ca)
-          Strontium (Sr)
-          Barium (Ba)
-          Radium (Ra)


2.      Selesaikan persamaan reaksi berikut:
Jawab :
a.       CaCl2 + (NH4)2CO3 à CaCO3 + 2NH4Cl
b.      BaCl2 + (NH4)2CO3 à BaCO3 + 2NH4Cl
c.       2NaCl + (NH4)2CO3 à Na­2CO3 + 2NH4Cl
d.      NaCl + Cl à Tidak terjadi reaksi
e.       2NaBr + Cl2 à 2NaCl + Br2
f.       2NaI + Cl2 à 2NaCl + I2
3.      Apa fungsi penambahan CCl4 dalam percobaan C?
Jawab :
Untuk mengidentifikasi unsur-unsur ada tidaknya pengendapan
V.               LANDASAN TEORI
Uji nyala dapat diamati dari larutan yang jumlahnya sangat sedikit dengan menggunakan kawat nikrom. Dengan mencelupkan kawat nikrom kedalam larutan kemudian membakarnya pada nyala api yang panas (api yang biru) akan dapat diamati warna nyala dari unsur tersebut. Larutan yang digunakan adalah larutan garam dari unsur tersebut. Setiap unsur akan memberikan warna nyala yang berbeda, contoh : larutan natrium memberikan nyala kuning, larutan tembaga nyala hijau, larutan litium nyala merah.
Nyala menjadi ciri khas unsur-unsur. Warna nyala kuning tajam merupakan cara yang praktis untuk menentukan unsur natrium. Inilah sebabnya uji nyala dapat digunakan untuk menentukan larutan yang tidak diketahui.
Garam halida dan alkali dan alkali tanah dapat bereaksi dengan halogen yang lebih bersifat pengoksidasi, sehingga terbentuk halogen dari halida tersebut. Urutan kekuatan pengoksidasi adalah F2 > Cl2 > Br2 > I2 . F2 dapat mengoksidasi Cl- menjadi Cl2 dan Cl2 dapat mengoksidasi Br- menjadi Br2 dan seterusnya. Sedangkan Br2 tidak dapat mengoksidasi Cl- menjadi Cl2. Reaksinya dapat dilihat sebagai berikut:
            Cl2 + Br- à Cl- + Br2
                Cl2 + I­- à Cl- + I2
                Br2 + Cl- à tidak bereaksi
            Dalam reaksi ini untuk mendapatkan klorin dapat dibuat air klorin dengan jalan memanaskan campuran MnO2 dengan HCl 6 M. pemanas yang digunakan cukup lampu spirtus. Gas yang terbentuk dialirkan kedalam air suling. Persamaan reaksi :
MnO2 + 4HCl à MnCl2 + 2H2O + CL2 (Epinur, dkk.2013:25-26).

            Unsur-unsur halogen dalam sistem periodik termasuk dalamgolongan VIA. Pembuatan unsur-unsur ini dapat dilakukan dilaboratrium dengan cara yang tidak terlampau sukar. Pembuatan klor berdasarkan pada oksidasi ion klorida :
2Cl- + Konduktor à Cl2 + hasil reduksi
            Oksidator-oksidator yang dapat dipakai dalam larutan asam, misalnya MnO2, MnO4-, Cr2O7-2, PbO2. Pembuatan brom juga berdasarkan oksidasi ion Br- oleh oksidator-oksidator seperti yang dipakai pada pembuatan klor. Selain dari pada itu, brom dapat juga dibuat dengan mengoksidasi ion bromida dengan klor.
Cl2 + 2Br- à 2Cl- + Br2
Sedangkan Yod, I2, dapat dibuat dengan mengoksidasi ion I
Cl2 + 2I­- à 2Cl- + I2
Yod yang mengendap dipisahkan dengan cara penyaringan dari suatu yodat, misalnya natrium yodat, NaIo2. Yod dapat diperoleh dengan cara mereduksinya dengan natrium hidrogen sulfit. Dari harga potensial elektroda dapat diketahui bahwa Cl2 dapat mengoksidasi ion bromida dan ion yodida.
Logam-logam alkali tanah dan alkali disebut logam-logam ringan, oleh karena itu massa jenisnya kecil. Semua logam ini bereaksi kuat dengan air, membebaskan hidrogen dan menghasilkan basa yang kuat. Unsur ini mempunyai elektron valensi 1 dibandingkan antara unsur-unsur dalam 1 perioda, maka jari-jari atom logam alkali yang terbesar. Elektron valensi itu mudah dilepas sehingga logam-logam alkali termasuk unsur yang paling elektropositif. Dalam golongan ini, makin kebawah makin relatif.
Logam-logam alkali tanah, mempunyai 2 elektron valensi yang tingkat oksidasinya hanya 1 yaitu +2. Unsur ini dapat juga dikenal dengan memeriksa warna nyala dari perubahan garam-garamnya (Ahmad Hiskia. 1993:119-126).

Unsur-unsur dalam 1 golongan mempunyai banyak persamaan sifat kimianya. Sifat-sifat kimia ditentukan oleh elektron valensinya, yaitu elektron yang terdapat pada kulit lintasan yang terluar, karena elektron valensi unsur yang segolongan sama dengan sendirinya sifat kimianya juga sama.
a.       Golongan IA
Unsur golongan ini sangat elektropositif dan reaktif. Karena unsur ini kereaktifannya tidak terdapat dalam keadaan bebas dialam. Fransium merupakan unsur yang radioaktif. Semua unsur golongan ini merupakan reduktor yang kuat dan mempunyai massa jenis yang rendah. Dalam nyala bunsen ion litium berwarna merah, natrium kuning, kalium ungu, rubidium merah dan sesium biru.
b.      Golongan VIIA
Unsur golongan ini sangat elektronegatif, artinya mudah membentuk ion nesotif x1. Unsur ini membentuk molekul diatomik F2, Cl2, Br2, dan I2. Pada suhu klor berupa gas kuning yang kehijauan, brom berupa cairan yang merah coklat. Iod berupa zat padat hitam dan flor berupa gas yang kekuning-kuningan.
c.       Gas Mulia
Golongan terdiri atas unsur helium, neon, argon, kripton, ksenon, dan radon. Beberapa sifat dari unsur golongan ini. Atom dari gas mulia ini semua mempunyai susunan elektron yang penuh yaitu 8 elektron. Pada kulit lintasan terluar konfigurasi elektron yang demikian bersifat sangat stabil, oleh karena itu selama bertahun-tahun tidak dikenal senyawa dari unsur gas mulia. Baru pada tahun 1962 M Bartlet menemukan bahwa ksenon dapat bereaksi dengan Pt. F6 membentuk XePtF6 sejak didapatnya senyawa ksenon maka para ahli banyak menyelidiki tentang senyawa gas mulia. Dari ksenon telah dikenal banyak senyawa seperti : XeF2, XeF6, XeOF4, XeO2F2 dan XeO3.
d.      Unsur-Unsur Transisi
Pada tiap-tiap periode panjang antara golongan IIA dan IIIA terdapat unsur-unsur yang dinamakan unsur transisi. Unsur-unsur tersebut adalah unsur dengan nomor atom = 21-30, 34-48, 57-78, dan 89-120. Semua unsur transisi bersifat logam, kecuali emas (kuning) dan tembaga (merah). Unsur-unsur ini menyerupai besi atau timah. Persamaan sifat kimia tampak lebih pada satu periode daripada dalam satu golongan. Terutama unsur dalam golongan VIIIB sangat mirip satu sama dengan lainnya. Pada umumnya logam-logam ini :
1.      Jumlah eektron pada kulit terluar yang tetap
2.      Titik lebur dan titik didih tinggi
3.      Jari-jari atom yang hampir sama
4.      Energi potensialnya hanya sedikit bertambah besar dengan bertambahnya nomor atom (Sukardjo.1990:375-377).

Setelah unsur-unsur kimia ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak, orang berusaha mempelajari unsur-unsur kimia tersebut secara sistematik. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengadakan penggolongan unsur-unsur atas dasar kesamaan sifat-sifat tertentu.
Usaha yang mula-mula ialah menggolongkan unsur-unsur menjadi logam dan bukan logam. Unsur-unsur seperti emas, perak, dan tembaga termasuk golongan logam, sedang unsur-unsur seperti oksigen, nitrogen, dan belerang termasuk golongan bukan logam. Penggolongan ini kemudian ternyata kurang memuaskan karena adanya unsur-unsur yang mempunyai sifat antara logam dan bukan logam, seperti arsen dan antimen.
Penggolongan unsur berikutnya adalah penggolongan berdasarkan valensi dari unsur-unsur, penggolongan ini juga kurang memuaskan karena unsur-unsur yang mempunyai valensi sama, seperti natrium dan klor, tetapi sifatnya sangat berlainan.
Setelah adanya teori atom Dalton, orang berusaha menghubungkan sifat-sifat dari berbagai unsur dengan berat atomnya. J.W. Dobereiner pada tahun 1817 menyusun unsur-unsur yang sifatnya sama dengan masing-masing kelompok terdiri atas 3 unsur kelompok ini disebutnya triade. Ia mendapatkan bahwa dalam satu triade, maka berat atom unsur yang tengah sama dengan rata-rata dari berat atom sebelum dan sesudahnya.
Penggolongan unsur berikutnya ialah penggolongan yang diadakan oleh J.A Newlands pada tahun 1864-1866. Unsur-unsur yang pada waktu itu telah dikenal disusun menurut berat atom yang semakin besar. Ia mendapatkan bahwa unsur yang kedelapan dari suatu unsur, mempunyai sifat-sifat yang sama dengan unsur yang ditinjau. Jadi setelah setiap tujuh unsur terdapat pengulangan sifat kimianya. Dengan demikian didapatkan deretan unsur-unsur yang terdiri atas tujuh unsur. Oleh karena itu hal ini menyerupai tangga musik, Newlands menamakannya huruf oktaf dari suatu unsur-unsur tersebut (Soetopo.1990:366-368).

Unsur-unsur menyusun tentang pembuatan klorin skala industri dan kaitannya dengan 2 senyawa basa yang penting yaitu natrium karbonat dan natrium hidroksida. Unsur ini dari beberapa senyawa sangat reaktif dan beracun, tetapi senyawa lainnya sangat berbeda jauh sifatnya dari senyawa dipilih untuk dimanfaatkan sifatnya yang lembab (inert) dan tidak beracun. Pada kondisi yang benar, flourin membentuk senyawa dengan hampir semua unsur, satu-satunya pengecualian ialah dengan helium, neon, dan argon.
Kimiawan Swedia Karl Wilhen Scheele pada tahun 1774 dan membuatnya dalam bentuk unsur melalui reaksi asam klorida dengan pirolusit, suatu mineral yang mengandung MnO2 :
4HCl (aq) + MnO2 (g) à Cl2 (g) + MnCl2 (aq) + 2H2O (l)
Schele tidak menyadari bahwa gas kuning kehijauan yang dihasikannya adalah unsur dan hal ini terus berlangsung sampai Humpsy Davy mengidentifikasinya pada tahun 1811 dan menamainya (kata yunani, chlorus berarti “hijau”). Sementara itu Berthallet dan Clesaussare telah mendeskripsikan sifat pemutih dari klorin pada tahun 1786. Namun demikian klorin kurang memuaskan dalam beberapa hal: zat ini akan merusak pakaian kecuali dipantau dengan cermat.
Klorin, Bromin, dan Iodin memiliki lebih banyak kesamaan sifat stu sama lain daripada dengan Flourin, yang sifat-sifat khususnya mendeskripsikan produksi Klorin dan peranannya dalam pembuatan zat pemutih (David Oxtoby.2003:246, 247-249).

Dalam unsur-unsur halogen menjelaskan sifat menonjol dari non logam Flour dan Klor(dan sedikit mengenai Brom dan Iod), berdasar sifat-sifat atom dan fisiknya kita membicarakan kecenderungan kuat dari atom F dan Cl untuk menarik elektron yang mengakibatkan bentuk yang sering ditemukan dialam, yakni bentuk ion F- dan Cl-, serta kesulitan dalam pembuatan unsur murni dan bentuk ionnya.
Brom secara komersial dihasilkan melalui ekstraksi dari air laut, yang mengandung sekitar 70 ppm Br-. Mula-mula pH air laut dijadikan 3.5 dan direaksikan dengan Cl2 (g) + 2Br- (aq) à Br2 (aq) + 2Cl- (aq).
Penggunaan Br2 yang paling penting adalah pembuatan etilena dibrimida (C2H4B12) yaitu aditif dalam bensin. Fungsinya adalah untuk bereaksi dengan timbal dan atitif anti tetap (anti knock), tetrae timbal, menghasilkan timbal (II) bromida yang volatif antara lain adalah dalam pembuatan senyawa organik seperti zat pewarna, obat-obatan, bahan fumigasi dan pestisida.
Iod dapat diperoleh dalam jumlah kecil dari ganggang laut yang dikeringkan, karena beberapa tanaman laut mampu menyerap dan mengikatkan 1 secara selektif dan kehadira I- dan Br‑­ dari segi komersial, Iod kurang penting dibanding klor dan Brom, sekalipun senyawanya dapat diterapkan sebagai katalis, dalam bidang medis dan pembuatan emulsi potografi (AgI).
Golongan logam alkali merupakan golongan dari logam yang aktif paling aktif. Logam-logam tersebut menunjukkan energi ionisasi yang rendah, potensi elektrodanya besar dan negatif. Kesimpulan bahwa pada umumnya keragaman sifat dalam golongan ini mudah diramalkan segi keberkalan. Beberapa penyimpangan terutama ditunjukkan oleh anggota utama yaitu Li.
Beberapa perbendaan Litium dan senyawanya dibanding logam alkali :
1.      Kelarutan senyawa karboner, fluorida, hidroksida, dan fosfatnya rendah.
2.      Kemampuan membentuk Nitrida (LI3N).
3.      Pembentuk oksida normal (LI2O), Bukan peroksida atau superoksida.
4.      Jika dipanaskan, terkadi pengunraian senyawa karbonat dan hidroksidanya menjadi oksida.
            Dalam golongan logam alkali, perbedaan ini disebabkan oleh tingginya rapat muatan (yaitu nisbah muatan kation terhadap jari-jari kation) pada Li+ dibanding ion logam alkali lainnya.
            Ion logam IIA, suit direduksi menjadi logam bebas, karena harga potensial reduksinya besar dan negatif. Senyawa-senyawa logam alkali tanah sebagaimana telah diuraikan kation alkali tanah mempunyai rapatan muatan positif yang tinggi. Apabila tergantung dengan anion tertentu, kation tersebut akan memberi energi kisi yang tinggi dan garam-garamnya dapat sedikit larut atau tidak larut dalam air (Raip H Pertucci.1993:51-53, 96-106).

VI.           ALAT DAN BAHAN
1.      Uji nyala untuk unsur alkali dan alkali tanah


a.       Alat
Ø  Tabung reaksi 6 buah
Ø  Kawat nikrom
Ø  Nyala bunsen
Ø  Rak
b.      Bahan
Ø  Larutan BaCl2 0.5 M
Ø  Larutan CaCl2 0.5 M
Ø  Larutan LiCl 0.5 M
Ø  Larutan KCl 0.5 M
Ø  Larutan NaCl 0.5 M
Ø  Larutan SrCl 0.5 M
Ø  Larutan HCl 12 M pekat


2.      Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah


a.       Alat
Ø  Tabung
Ø  Lembar laporan
b.      Bahan
Ø  1 ml larutan amonium karbonat 0.5 M
Ø  2 ml larutan barium, kalsium, litium, kalium, natrium dan strontium
Ø  I ml larutan amonium fosfat 0.5 M
Ø  Air suling


3.      Reaksi-reaksi halida


a.       Alat
Ø Tabung reaksi 3 buah
b.      Bahan
Ø NaCl 0,5M, NaBr 0,5M, NaI 0,5M
Ø 1 ml karbon tetraklorida
Ø 1 ml air klorin
Ø 5 tetes asam nitrat encer


4.      Analisis larutan anu


a.       Alat
Ø Tabung reaksi 3 buah
b.      Bahan
Ø Larutan anu (x)
Ø 1 ml amonium karbonat
Ø 1 ml amonium sulfat
Ø 1 ml amonium fosfat
Ø 1 ml larutan anu (y)
Ø 1 ml karbon tetrakorida
Ø 1 ml air klorin
Ø Setetes asam nitrat
V.               PROSEDUR KERJA
A.    Uji Nyala untuk Unsur Alkali dan Alkali Tanah
Masing-masing 2 ml larutan BaCl2 0,5M, NaCl 0,5M, LiCl 0,5M, KCl 0,5M, CaCl2 0,5M, dan SrCl 0,5M
-          Dimasukkan masing-masing kedalam tabung reaksi
Kawat Nikrom
-          Dipanaskan pada bagian biru nyala bunsen
-          Dicelupkan pada larutan Barium
-          Dibersihkan kawat kedalam larutan HCl pekat (12M) & panaskan sampai merah
-          Ulangi uji nyala untuk larutan Kalsium, Litium, Kalium, Natrium, dan Strontium
Hasil Pengamatan

B.     Reaksi-Reaksi Unsur Alkali dan Alkali Tanah
BaCl2 0,5M
CaCl2 0,5M
LiCl 0,5M
KCl 0,5M
NaCl 0,5M
SrCl 0,5M
-          Ditambah 1 ml larutan amonium karbonat 0,5M
Hasil Pengamatan
-          Tabung reaksi dibilas dengan air suling
BaCl2 0,5M
CaCl2 0,5M
LiCl2 0,5M
KCl 0,5M
NaCl 0,5M
SrCl 0,5M
-          Ditambah 1 ml larutan amonium fosfat 0,5 M
Hasil Pengamatan
-          Tabung reaksi dibilas dengan air suling
BaCl2 0,5M
CaCl2 0,5M
LiCl2 0,5M
KCl 0,5M
NaCl 0,5M
SrCl 0,5M
-          Ditambah 1 ml larutan amonium sulfat 0,5 M
Hasil Pengamatan


C.    Reaksi-Reaksi Halida
1 ml larutan NaCl 0.5M
1 ml larutan NaBr 0.5M
1 ml larutan NaI 0.5M
-          Ditambahkan 1ml karbon tetraklorida, 1ml air klorin dan 5tetes asam nitrat encer (6M)
-          Kocok setiap tabung
Hasil Pengamatan

D.    Analisis larutan Anu
Larutan Anu (x)
-          Dilakukan uji nyala
-          Dicatat hasil pengamatan
-          Dimasukkan kedalam 3 tabung reaksi dan tambahkan


1 ml amonium karbonat
1 ml amonium fosfat
1 ml amonium sulfat
-          diamati
Hasil Pengamatan

VI.           DATA PENGAMATAN
A.    Uji Nyala Unsur Alkali dan Alkali Tanah
No.
Zat
Warna Nyala
Keterangan
1.
CaCl2
Merah
Alkali Tanah
2.
BaCl2
Kuning
Alkali Tanah
3.
SrCl2
Merah
Alkali Tanah
4.
KCl
Ungu
Alkali
5.
NaCl
Orange
Alkali
6.
LiCl
-
-




B.     Reaksi-Reaksi Unsur Alkali dan Alkali Tanah
No.
Zat
Pereaksi
EDP
TR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
CaCl2
BaCl2
SrCl2
KCl
NaCl
LiCl
(NH4)2CO

ü  
-
ü  
-
ü  
-
-
ü  
-
ü  
-
-
No.
Zat
Pereaksi
EDP
TR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
CaCl2
BaCl2
SrCl2
KCl
NaCl
LiCl
(NH)3PO4
ü  
-
ü  
-
ü  
-
-
ü  
-
ü  
-
-
No.
Zat
Pereaksi
EDP
TR
1.
CaCl2
(NH4)2SO4
ü  
-
2.
BaCl2
ü  
-
3.
SrCl2
ü  
-
4.
KCl
-
ü  
5.
NaCl
-
ü  
6.
LiCl
-
-

C.     Reaksi-Reaksi Halida
No.
Zat
Warna Nyala
1.
NaCl + Cl2
Bening
2.
NaBr + Cl2
Orange kekuningan
3.
NaI + Cl2
Merah

D.    Analisis larutan Anu
a.       Zat X
·         Warna nyala zat X = ungu
·         X + (NH4)2CO3 à TR
·         X + (NH)3PO4 à TR
·         X + (NH4)2SO4 à TR
Kesimpulan : Zat ini adalah KCl
b.      Zat Y
Zat Y + CCl4 + HNO3 à  Ada Endapan
Warna Lapisan CCl4 = merah bata
Kesimpulan : Zat ini adalah NaI
VII.        PEMBAHASAN
A.    Uji Nyala untuk Unsur Alkali dan Alkali Tanah
Unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah merupakan unsur yang sangat reaktif. Unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah juga memberikan warna yang berbeda pada nyala api. Uji nyala biasanya digunakan untuk mengidentifikasikan unsur alkali dan alkali tanah. Elektron dalam atom dapat berpindah dari kulit yang satu ke kulit yang lain. Bila elektron berpindah dari kulit yang lebih rendah akan terjadi pelepasan energi dalam bentuk radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang tertentu. Jika radiasi tersebut dalam sinar tampak, maka akan terihat warna.
Berikut ini hasil pengujian warna nyala pada unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah yang telah dilakukan.
·         Golongan alkali dan warna nyala
1.      KCl           : Ungu
2.      NaCl          : Orange
3.      LiCl           : Tidak dipraktikumkan
·         Golongan alkali tanah dan warna nyala
1.      CaCl2         : Merah
2.      BaCl2         : Kuning
3.      SrCl          : Merah
Berdasarkan hasil percobaan diatas, pengujian warna nyala pada unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah sesuai dengan teorinya kecuali unsur golongan alkali NaCl yang berwarna Orange, karena warna NaCl sebenarnya adalah Kuning. Hal ini disebabkan kurang telitinya dalam melihat warna yang tampak pada nyala (bunsen).
B.     Reaksi-Reaksi Unsur Alkali Tanah
Dari percobaan reaksi-reaksi alkali tanah dengan (NH4)2CO, (NH)3PO4, dan (NH4)2SO4. Pada umumnya reaksi dengan alkali tanah terdapat endapan, hal ini disebabkan hasil kali kelarutan ion alkali tanah > ion-ion alkali. Sedangkan unsur-unsur golongan alkali tidak terjadi endapan pada reaksi tersebut.
a.       Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah yang berekasi dengan (NH4)2CO
·         Unsur Golongan Alkali
KCl + (NH4)2CO à TR (Tidak mengalami pengendapan atau tidak terjadi reaksi)
NaCl + (NH4)2CO à TR (Tidak mengalami pengendapan atau tidak terjadi reaksi)
LiCl + (NH4)2CO à tidak diprktikumkan
·         Unsur Golongan Alkali Tanah
CaCl2 + (NH4)2COà CaCO3  + 2NH4Cl (mengendap)
BaCl2 + (NH4)2COà BaCO3 + 2NH4Cl (mengendap)
SrCl2 + (NH4)2CO à SrCO3 + 2NH4Cl (mengendap)
b.      Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah yang berekasi dengan (NH)3PO4
·         Unsur Golongan Alkali
KCl + (NH)3PO4 à TR (Tidak mengalami pengendapan atau tidak terjadi reaksi)
NaCl + (NH)3PO4 à TR (Tidak mengalami pengendapan atau tidak terjadi reaksi)
LiCl + (NH)3PO4 à tidak dipraktikumkan
·         Unsur Golongan Alkali Tanah
3CaCl2 + 2(NH)3PO4 à Ca3(PO4)2 + 6NH4Cl (mengendap)
3BaCl2 + 2(NH)3PO4 à Ba3(PO4)2 + 6NH4Cl (mengendap)
3SrCl2 + 2(NH)3PO4 ­à Sr3(PO4)2 + 6NH4Cl (mengendap)
c.       Reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah yang berekasi dengan (NH4)2SO4
·         Unsur Golongan Alkali
KCl + (NH4)2SO4 à TR (Tidak mengalami pengendapan atau tidak terjadi reaksi)
NaCl + (NH4)2SO4 à TR (Tidak mengalami pengendapan atau tidak terjadi reaksi)
LiCl + (NH4)2SO4 à tidak dipraktikumkan
·         Unsur Golongan Alkali Tanah
BaCl2 + (NH4)2SO4 à BaSO4 + 2NH4Cl (mengendap)
CaCl2 + (NH4)2SO4 à CaSO4 + 2NH4Cl (mengendap)
SrCl2 + (NH4)2SO4 à SrSO4 + 2NH4Cl (mengendap)
Berdasarkam data tabel hasil pengamatan, maka terdapat kesamaan sifat unsur-unsur, yaitu kesamaan sifat unsur-unsur segolongan, misalnya : pada unsur alkali, yaitu K, Na, dan Li yang tidak terjadi reaksi oleh larutan (NH4)2CO, (NH4)3PO4, dan (NH4)2SO4. dan pada unsur-unsur alkali tanah, unsur yang direaksikan dengan (NH4)2CO, (NH)3PO4, dan (NH4)2SO4 menghasilkan endapan dan dapat bereaksi, kecuali Be dan Mg, bereaksi terus menerus dalam udara sampai seluruhnya diubah menjadi oksida, hidroksida, dan karbonat. Namun K, Na, Li, Ba, Sr dan Ca. Setelah dipraktikumkan, tidak semua hasil sama dengan teori, mungkin disini terjadi kesalahan pada saat percobaan.
C.     Reaksi-Reaksi Halida
Reaksi-reaksi halida yang diujikan pada percobaan ini adalah NaCl, NaBr, dan NaI, terlebih dahulu senyawa-senyawa tersebut diubah menjadi ion.
NaCl à Na+ + Cl-
NaBr à Na+ + Br-
NaI à Na+ + I-
Br- dan I- dapat dideteksi melalui reaksi dengan Cl2 dan Cl2 bereduksi menjadi Cl-, sedangkan Br- atau I- teroksidasi menjadi Br2 atau I2. Br2 atau I2 diekstrasi dari larutan berair dengan pelarut asam nitrat (HNO3) sehingga dihasilkn Br2 terbentuk endapan berupa kekuningan pada bagian atas dan bening pada lapisan bawahnya. Warna bening pada lapisan bawah tersebut adalah hasil reaksi dari CCl4. Lapisan atas merupakan reaksi air klorin, sedangkan lapisan bawah merupakan reaksi dari halida.
·         Sifat-sifat halogen
Dari atas kebawah jari-jari atomnya bertambah besar, titik didih dan lelehnya semakin besar.
·         Sifat-sifat unsur halida
a.       Klorin (Cl)
Klorin dalam air berwarna hijau muda. Klorin dengan gas hidrogen bereaksi cepat dan jika unsur ultraviolet akan terjadi ledakan karena terjadi reaksi berantai, klorin dalam air tidak melarut sempurna dan reaksinya lambat.
b.      Bromin (Br)
Bromin dalam air berwarna coklat kemerahan. Dengan gas hidrogen bereaksi lambat. Bromin dalam air tidak melarut sempurna dan reaksinya lambat.
c.       Iodin (I)
Iodin didalam air berwarna coklat. Dengan gas hidrogen bereaksi lambat.
D.    Analisis Larutan X dan Y
Pada zat X, praktikum menyatakan bahwa larutan X adalah larutan Kalium Klorida (KCl), karena tidak ada yang mengalami endapan. Sedangkan pada zat Y, praktikum menyatakan bahwa larutan Y adalah larutan NaI, Karena warna lapisan CCl4 adalah merah bata.



VIII.    DISKUSI
A.    Uji Nyala Unsur Alkali dan Alkali Tanah
Berdasarkan percobaan uji nyala unsur alkali dan alkali tanah yang dilakukan warna nyala yang didapat sama dengan literatur, kecuali NaCl yang berwarna Orange. Berikut ini warna nyala berdasarkan percobaan dan literatur.
Unsur
Uji Nyala pada Percobaan
Uji Nyala pada Teori
NaCl
Orange
Kuning
KCl
Ungu
Ungu
BaCl2
Kuning
Kuning
CaCl2
Merah
Merah
SrCl2
Merah
Merah

B.     Reaksi-Reaksi Unsur Alkali dan Alkali Tanah
Pada percobaan reaksi-reaksi unsur alkali dan alkali tanah menggunakan pereaksi (NH4)2CO, (NH)3PO4, dan (NH4)2SO4 hasilnya adalah unsur alkali tidak mengalami reaksi atau tidak terjadi endapan, sedangkan unsur alkali tanah direaksikan dengan menggunakan pereaksi (NH4)2CO, (NH)3PO4, dan (NH4)2SO4 hasilnya adalah mengalami pengendapan (EDP), hanya saja terjadi kesalahan pada KCl pada saat melakukan percobaan, karena kurang ketelitian, yaitu KCl mengalami pengendapan. Hubungan dengan Ksp:
Ø  Jika hasil kali konsentrasi ion-ion lebih besar dari Ksp elektrolit, maka larutan lewat jenuh, akibatnya elektrolit, akibatnya elektrolit itu akan mengendap.
Ø  Jika hasil kali konsentrasi ion-ion lebih kecil dari Ksp elektolit, maka larutan belum jenuh. Artinya elektrolit itu masih dapat larut dan masih dapat ditambah
Sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur alkali tanah memiliki harga Ksp yang lebih kecil dari hasil kali konsentrasi ion-ion. Sedangkan unsur-unsur alkali tanah memiliki harga Ksp lebih besar dari hasil kali konsentrasi ion-ion.
C.     Reaksi-Reaksi Halida
Dalam percobaan reaksi-reaksi halida yang melibatkan salah satu logam alkali yaitu Natrium, yang mana unsur logam ini cenderung mengalami oksidasi (melepas elektron), sehingga semua logam mempunyai sifat reduktor. Ada logam yang bersifat reduktor lemah. Sebagai contoh NaCl + C6H4 + HNO3 + Cl. Natrium dapat bereaksi dengan larutan asam, sebab Na terletak disebelah kiri H.
Garam halida dan alkali dan alkali tanah dapat bereaksi dengan halogen yang lebih bersifat pengoksidasi, sehingga terbentuk halogen dari halida tersebut. Urutan kekuatan pengoksidasi adalah F2 > Cl2 > Br2 > I2 . F2 dapat mengoksidasi Cl- menjadi Cl2 dan Cl2 dapat mengoksidasi Br- menjadi Br2 dan seterusnya. Sedangkan Br2 tidak dapat mengoksidasi Cl- menjadi Cl2. Berikut hasil warna yang didapat :
No.
Zat
Warna larutan Heksana
1.
NaCl + Cl2
Lapisan atas bening, lapisan bawah agak kuning
2.
NaBr + Cl2
Lapisan atas orange kekuningan, lapisan bawah bening
3.
NaI + Cl2
Lapisan atas ungu kemerahan, lapisan bawah merah

D.    Analisis Larutan X dan Y
Dengan mengamati uji nyala unsur alkali dan alkali tanah, kemudian zat X dilakukan uji nyala dan warna nyalanya ungu lalu dicampur dengan larutan (NH4)2CO, (NH)3PO4, dan (NH4)2SO4 tidak mengalami pengendapan. Dan ternyata dapat disimpulkan zat ini adalah Kalium Klorida (KCl). Sedangkan pada zat Y pada saat ditambahkan CCl4 dan HNO3 terjadi endapan (EDP) dan warna lapisan CCl4 adalah merah bata, maka dapat disimpulkan bahwa zat Y ini adalah berupa NaI.
IX.           PERTANYAAN PASCA PRAKTEK
1.      Apakah reaksi nyala saja yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi unsur? Jelaskan!
Jawab :
Tidak, karena Uji Nyala adalah salah satu ciri khas dari suatu unsur. Unsur yang fereksitasi karena pemanasan merupakan salah satu ciri khas dari suatu unsur yang akan memancarkan spektrum emisi yang teramati sebagai pancaran cahaya dengan warna tertentu. Namun untuk memperoleh kepastian dan keakuratan unsur tidak dapat diidentifikasikan melalui uji nyala saja karena hal ini dapat menimbulkan kekeliruan zat-zat yang hampir sama warnanya dalam satu golongan maupun beda golongan. Oleh karena itu, selain uji nyala dapat dilakukan reaksi pengendapan, reaksi halida, maupun reaksi lain untuk memperoleh hasil yang lebih pasti.
2.      Mengapa reaksi air klorin dengan NaCl, NaBr, dan NaI memberikan hasil yang berbeda?
Jawab :
Karena setiap unsur halogen memiliki tingkat pengoksidasi yang berbeda-beda. Daya pengoksidasi halogen dari unsur paling atas kebawah semakin kecil sehingga halogen yang diatas dapat mengoksidasi  halida bagian bawah, tetapi tidak sebaliknya.
3.      Mengapa unsur golongan IA memberikan hasil yang berbeda dengan golongan IIA pada percobaan B1, B2, dan B3?
Jawab :
Karena unsur golongan IA lebih reaktif dari unsur golongan IIA, sehingga pada percobaan unsur golongan IIA memiliki kerapatan yang lebih tinggi daripada IA sehingga mudah mengendap.
X.               KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan, maka kita bisa simpulkan beberapa hal :
1.      Pada Tabel Periodik, tiap unsur terletak pada golongan dan periode tertentu, sehingga ada kelompok yang mempunyai kesamaan sifat, seperti unsur-unsur yang terletak dalam satu golongan memiliki kesamaan sifat.
2.      Uji nyala unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah. Warna nyala unsur-unsur golongan alkali (IA) yaitu : Li (merah), Na (kuning), K (Ungu), Rb (merah), dan Cs (Biru). Warna nyala unsur golongan alkali tanah (IIA) yaitu : Mg (putih), Ca (merah), Sr (merah tua), dan Ba (hijau).
3.      Air klorin bereaksi dengan ion Br- dan I- dengan membentuk endapan, pada Br- terbentuk endapan berwarna orange kekuningan pada lapisan atas, pada I terbentuk endapan berwrna ungu kemerahan pada lapisan atas. Sedangkan air klorin tidak bereaksi dengan ion Cl- sehingga pada uji coba hanya terbentuk lapisan berwarna bening dan agak keruh.
4.      Zat X yang teridentifikasi oleh praktikan dari hasil percobaan adalah KCl dan zat Y adalah NaI.
XI.           DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Kimia. Jakarta : Depdikbud
Epinur, dkk. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : Universitas Jambi
Oxtoby, David. 2003. Prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga
Petrucci, Raip. 1993. Prinsip Terapan Kimia. Jakarta : Erlangga
Soetopo. 1990. Prinsip Terapan Kimia. Jakarta : Yudistira
Sukardjo. 1990. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga

Tidak ada komentar:
Write komentar